Cerita Sex: Detektif Membongkar Rahasia

Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex – Detektif Membongkar Rahasia Terbaru 2016cerita-sex-detektif-membongkar-rahasia

Cerita Sex Terbaru | Aku kaget ada yg mengetuk pintu. Kulihat disebelahku Yudi dan Arman masih tidur. Rupanya Pipit membangunkan karena kami harus berangkat lebih pagi untuk survey air terjun. Waktu mau mandi, airnya dingin sekali, maka aku hanya cuci muka, mandinya nanti kalau ada kesempatan di air terjun, atau sekalian nanti siang saja. Jadi aku bawa perlengkapan mandi. Aku membangunkan Yudi dan Arman karena mau berangkat dengan Pipit. Di teras rumah, Dona sudah berdiri, melepas Pipit dan aku dengan senyum khasnya.

Jarak berjalan kaki menuju air terjun tidak terlalu jauh. Dan ternyata air terjunnya sangat indah. Pipit dan aku serius merancang acara yg pas di sekitar air terjun. Menurut rancangan kami, acara di air terjun akan ditutup dengan menyiram wali kelas Bu Neni. Karena ngomongin Bu Neni, Pipit jadi kambuh lagi penyakit detektifnya.

Pipit masih menaruh curiga atas perubahan sikap Bu Neni, setelah aku ke rumah Bu Neni sendiri dengan waktu cukup lama. Menurutnya banyak hal bisa terjadi saat aku lama di rumah Bu Neni. Aku tetap bertahan mengatakan bahwa saat itu Bu Neni banyak menceritakan masa mudanya dan mengharapkan aku berhasil dimasa depanku. Kami saling memberi semangat untuk masa depan. Aku memberi semangat dan yakin bahwa Bu Neni bisa mendapatkan yg lebih baik lagi.

Pipit tetap terlihat belum puas tapi juga tak bisa membantah. Lalu Pipit mengungkit masalah lain. Menurutnya, kemarin aku tidak hanya berenang di sungai. Ia tak percaya aku bisa lupa waktu hanya gara-gara berenang. Ia juga menduga luka dipunggungku bukan karena kayu atau batang pohon. Aku bilang bahwa memang aku agak terseret arus karena arusnya deras, aku tantang Pipit untuk mencoba berenang disungai kalau waktu pulang nanti kita mampir lagi dirumah makan itu. Untuk luka dipunggung, aku hanya bilang ada banyak jenis pohon di hutan dan batangnya beda-beda.

Cerita Ngentot | Si detektif Pipit tetap belum puas. Lalu ia mengungkit penyelidikan yg ketiga. Tadi malam Pipit tidur sekamar Dona. Pipit melihat jalannya Dona agak tertatih, walaupun Dona berusaha normal. Pipit menanyakan padaku apa yg terjadi dengan Dona tadi malam. Kujawab bahwa Dona beberapa kali terpeleset, mungkin itu penyebabnya. Pipit bilang dia juga bertanya ke Dona dan Dona menjawab terpeleset dengan posisi kaki terbuka sehingga sakit ke pangkal paha.

Pipit tetap berkeras,

“Aku masih tidak percaya lho Jar. Aku masih curiga. Semuanya”.

Tugasku merencanakan perlengkapan di lokasi air terjun sudah selesai. Tinggal Pipit yg masih merancang detail acara, pengelompokan dan waktu. Dia sibuk mengitari area dan mencoret-coret di kertas. Daripada bengong, karena belum mandi pagi, aku minta izin ke Pipit untuk mandi di dekat air terjun. Aku menyeberang dan mendapat tempat yg tersembunyi dibalik batu besar yg hanya terlihat dari arah air terjun. Walau sudah mempersiapkan celana pendek, tetapi karena cukup tersembunyi dan sepi dan supaya lebih nyaman, aku mandi bugil saja.

Saat bersabun, diantara gemuruh air terjun, aku mendengar benda jatuh ke air dibalik batu besarku. Sambil berendam aku keluar untuk melihat benda jatuh itu. Ternyata Pipit! Rupanya dia terpeleset saat menyebrangi batu-batu.

Aku menghampirinya dan menanyakan apakah ada yg terluka atau sakit. Hanya tangan dan kaki dan sedikit dipunggung yg terasa sakit. Aku menuntunnya ke tepi dan melihat tangannya yg sakit. Kulihat matanya bergerak-gerak agak melotot. Aku takut kepalanya terbentur.

“Kepalamu sakit?”, tanyaku.
“Oh.. ah.. nggak..”, katanya.
“Tadi kulihat matamu bergerak-gerak”, kataku.
“Anu.. Jar.. kamu bugil..”, kata Pipit. Oops, aku baru sadar bahwa aku dalam keadaan bugil.

Segera aku mengambil celana pendek dan memakainya. Karena tangan Pipit sedikit berdarah, segera aku kembali keseberang untuk mengambil tas obat, lalu segera mengobati luka di tangannya.

“Kakimu yg sakit dimana?”, tanyaku.

Pipit menunjuk kearah kedua lututnya. Karena memakai celana jin ketat, agak sulit melihat dari lintingan bawah, jadi celananya harus dibuka.

“Lihat lukanya ya..”, kataku sambil menyuruh mencopot celana jinnya.

Dia ragu sejenak, lalu berusaha membuka celananya, tetapi karena tangannya sakit, ia kesulitan. Akhirnya kubantu untuk mencopot celananya. Terlihat kakinya dipaha dekat lutut agak membiru. Maka segera kukeringkan dengan handukku lalu kuoleskan penghangat di kedua pahanya.

“Sekarang lihat punggungmu”. Pipit menyingkap kaosnya keatas dan memang ada memar sedikit.

Setelah kukeringkan dengan handuk, kugosok juga punggunya dengan cream penghangat. Supaya tidak kena baju kaosnya yg basah, aku sarankan Pipit untuk mencopot bajunya. Dia tidak bawa ganti, aku juga cuma bawa tambahan celana pendek untuk mandi, maka baju dan celananya kuperas dan kujemur.

Aku duduk disampingnya.

”Kenapa kamu harus kesini, kan bisa teriak, nanti aku yg kembali ke seberang”, tanyaku.

Pipit diam saja. Napasnya masih terengah-engah dan berusaha menarik napas panjang.

“Kamu sudah selesai surveynya?”, tanyaku.
“Sudah”, jawabnya.
“Mau pulang sekarang atau nunggu kakinya agak enak jalan, atau nunggu kering baju dan celana?”, tanyaku.
“Nunggu kering saja”, katanya.

“Kalau begitu, sekalian bh dan celana dalamnya di jemur biar tidak masuk angin. Sambil nunggu, kamu bisa pakai baju dan celana pendekku yg satu lagi”, aku mengambil pakaianku dan memberikan padanya. Pipit diam sejenak. Lalu menyuruhku melihat kearah lain saat dia copot bh dan celana dalam. Aku ikuti perintahnya.

Setelah dia berpakaian dan minum sehingga lebih tenang, aku melanjutkan mandi. Gantian aku menyuruhnya melihat kearah lain karena aku akan mencopot celana pendek dan bugil lalu berendam di air. sayang kalau celana pendekku basah dan Pipit butuh celana pendekku yg satu lagi.

Pipit tertawa, “Ngapain aku harus noleh, tadi kan aku sudah lihat kamu bugil”. Dia tidak mau menoleh dan tetap melihat kearahku. Mau tidak mau aku membelakanginya dan segera mencopot celana lalu nyebur ke air.

Saat mau sabunan, ternyata sabunku ada jauh didarat karena tadi kulempar. Kuminta Pipit untuk mengambil sabun.

“Airnya segar nggak?”, tanya Pipit saat memberi sabun padaku.
“Lho, tadi kan kamu sudah kecebur”, candaku.
“Aku ingin mandi juga”, katanya.
“Silahkan, tapi baju dan celana pendekku tidak boleh basah”, kataku.
“Kamu menghadap sana dulu”, katanya.

Aku mengikutinya. Dia mencopot baju dan celana, lalu berendam ke air. Aku melihatnya.

“Segar kan?”.
“Iya.”, jawabnya senang.

Kami berkecipak kecipuk di air dekat air terjun.

“Sabunnya mana Jar”, tanya Pipit.

Aku melempar sabun ke Pipit. Lalu dia sabunan. Tapi dia kesulitan menyabuni punggung karena tangannya masih sakit. Aku mendekat, “Sini, punggunmu aku sabuni”, kataku dan dia memberikan sabun kepadaku.

“Kalau mau disabuni, berdiri dong, jangan berendam”. Pipit berdiri dan aku menyabuni punggungnya dari belakang.

Karena kakinya masih sakit, Pipit terjatuh kebelakang. Aku terlambat menahan sehingga kami jatuh berdua keair, Aku dibawah dan Pipit diatas menimpaku. Untung airnya dangkal. Pipit berbalik merangkak untuk berdiri, tapi kakinya lemah sehingga terjatuh dan menimpaku lagi. Akhirnya aku berusaha membopongnya dan merebahkannya di tepi.

Lalu mengambil handuk untuk mengeringkan seluruh bagian tubuhnya. Dari muka, dada, punggung, pinggang, bokong, selangkangan, paha, betis, tangan dan kaki. Lalu kukenakan kembali baju dan celana pendekku.

“Jar”, katanya.

Aku menoleh.

”Maaf ya, selama ini kukira kamu maniak seks.. Ternyata waktu aku bugil dan lemah, kamu tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kamu menolong aku dengan tulus tanpa bermaksud mesum”, kata Pipit.

Aku tersenyum. Sebenarnya aku juga sudah terangsang dari tadi. Apalagi saat menyabuni dan saat mengeringkan dengan handuk. Aku melihat dan mengelap susunya yg coklat menantang dan memeknya yg coklat tertutup jembut yg sudah lebat.

“Kamu sudah punya pacar Jar?”, tanyanya.

Aku mengangguk karena mulai tadi malam aku resmi pacaran dengan Dona.

“Berbahagialah pacarmu. Andai aku jadi pacarmu.”, katanya. Aku tersenyum.

Aku memegang baju dan celananya.

“Sudah mau kering. Basah sedikit kalau dibawa jalan dan naik motor, bisa kering kena angin”.

Kami berpakaian. Pipit tidak lagi menyuruhku memalingkan muka, tapi membiarkan aku melihatnya bugil. Dan diapun melihatku bugil berganti pakaian.

“Jar, tadi kulihat burungmu kecil, kok sekarang gede?”, tanya Pipit.
“terangsang ya?. Kenapa tadi tidak?”, dia bertanya lagi.

Aku hanya tersenyum dan memakaikan celana pendekku.

Karena tadi pikiranku hanya menolong Pipit, k0ntolku tidak terangsang. Sekarang aku tidak punya focus pikiran lain. Jadi kalau lihat wanita bugil secara otomatis k0ntolku terangsang.

Pipit yg sedang memakai bh segera berhenti. Dia mencopot kembali bh nya, mencopot celana dan celana dalamnya. Dia bugil. Lalu menghampiriku. Dia menghentikan tanganku yg sedang pakai celana. Mencopot celanaku dan celana dalamku. Kami sama-sama berdiri dalam keadaan bugil. Pipit meraih tanganku dan menatapku. Aku diam tetapi k0ntolku semakin ngaceng. Pipit melihatnya dan tersenyum.

“Kamu terangsang melihat aku bugil ya?”, godanya. Aku tidak menjawab.
“Mulutmu tidak menjawab. Tapi burungmu yg menjawab”, katanya tersenyum.

Lalu Pipit merebahkan diri dan menarikku untuk ikut merebahkan diri diatasnya. Dadaku menempel di susunya, k0ntolku menempel di memeknya.

“Pipit. Aku sudah punya pacar”, kataku dengan posisi menindihnya.

Aku teringat Dona yg mengancamku bila bermesum dengan Pipit di survey air terjun ini.

“Aku tahu. Dona kan?”, katanya tersenyum. Aku kaget, dia bisa menebak.
“Walaupun Dona bilang terpeleset, semalam aku lihat ada bercak darah di celana dalamnya” kata Pipit .

Dasar detektif, aku jadi tidak bisa berkelit.

“Iya, Dona pacarku”, kataku.

Pipit menarik napas dalam.

“Aku juga suka sama kamu Jar”, katanya.
“Kamu juga suka sama aku kan?”, tanyanya.
“Iya”, aku tak mau mengecewakannya.
“Tapi sekarang aku sudah menjadi pacarnya Dona . Aku sayang sama Dona”, kataku.

Kulihat Pipit sedikit cemberut. Karena pembicaraan ini, k0ntolku mulai mengendor. Aku hendak berdiri, tapi ditarik lagi oleh Pipit. Dia tersenyum.

“Kalau begitu beri aku pembuktian bahwa dugaanku tentang Bu Neni dan Dona benar”, katanya.
“Maksud kamu?”, tanyaku
“Lakukan padaku apa yg pernah kamu lakukan dengan Bu Neni dan Dona”, katanya. Aku menarik napas.
“Pipit. Kamu masih perawan?”, tanyaku. Pipit mengangguk tersenyum.
“Kalau begitu, perawanmu buat pacarmu saja nanti”, aku menyarankan.
“Kalau sampai tidak tembus perawan, bisa nggak?”, Pipit menawar. Aku diam.
“Atau nanti kulaporkan ke orangtuanya Dona juga ke Bu Neni lho”, Pipit berkata sambil tersenyum.

Aku menatapnya, mengangkat dadaku yg menghimpit susunya, lalu melihat susunya. Lalu mengangkat selangkanganku yg menghimpit selangkangannya, melihat memeknya dan k0ntolku. Dengan melihat pemandangan ini k0ntolku mulai ngaceng lagi.

“Setengah main saja ya Pit?”, kataku.
“Maksudnya?”, tanya Pipit.
“Nggak usah dimasukin”, kataku.
“Aku nggak ngerti. Jadi iya saja lah”, kata Pipit senang.

Aku juga senang dan sudah sangat terangsang.

Pipit menatapku menunggu. Maka mulailah kucium bibirnya, mungil sekali. Pipit terpejam. Pelan-pelan aku turun ke lehernya. Lalu turun ke dadanya, mencium dan menghisap satu susu sedangkan susu lain kubelai dan kuremas dengan tanganku. Susunya lebih besar dari susu Dona, putingnya juga. Pipit masih memejamkan matanya dan mulutnya mulai bersuara,

“oohh, jar..”

Aku tetap membelai dan meremas kedua susunya dan putingnya dengan kedua tanganku. Sedangkan wajahku mulai turun menciumi perut, bulu jembut . pahanya masih tertutup rapat. Kurenggangkan pahanya sehingga memeknya terlihat, kubelai bibir memeknya.

“oohh..”, desah Pipit.

Jariku mencari itil dan ketemu, walaupun agak kecil dan lebih kecil dari itil Dona,

“aaawwwwwhhh ohhh”, Pipit menjerit panjang saat itilnya tersentuh dan kugesek-gesek dengan jariku.

Lalu kucium memeknya.

“Jar, oohh..”. Kubuka bibir memeknya dengan jariku, sehingga terlihat jelas itil dan lubang memeknya yg berwarna merahmuda.

Pipit mengepitkan pahanya, lalu kubuka dan kutahan dengan siku tanganku. Lalu kujilati lubang dan itilnya, Pipit meremas rambutku dan memekik keras

“aaaaawwwwhhhh aaawwhhhh…”

Lama aku menjilati memeknya, akhirnya aku merangkak diatasnya. Pipit menatapku dengan pandangan sayu. Dadanya naik turun karena napas dan detak jantung tak beraturan. Aku menciumnya dan meluruskan k0ntolku ke memeknya, lalu menggesek-gesekkan kememeknya.

“Jar?” Pipit bertanya.
“Nggak apa-apa kok Pit”, kataku menenangkan.

Mulailah aku menaikturunkan pantatku menggesek-gesek k0ntol di memeknya.

“Ooohh Jar ohhh…” desahnya sambil menggelinjang dan menggerak-gerakkan pantatnya
“Pipit..” aku menggenjot sambil bergantian mencium leher, bibir dan susunya.

Kami terus menggenjot dan bergoyg, dan diantara pergumulan kami Pipit berkata,

“oohh.. Jar.. hh.. aku.. bisa .. hh .. diatas..?”.
“.. boleh..hh”, jawabku. Lalu berguling dan mengangkat tubuhnya menjadi diatasku.

Lalu kembali k0ntolku diposisi menggesek memeknya. Dan mulailah Pipit menaikturunkan pantatnya.

“ohh.. ennaakk bang nget jar.. ohh…”, celotehnya.
“..Rheni.. bhelum.. phernahh .. bheghinhi ya..”, katanya lagi.

Aku tidak menjawab dan terus memegang pantatnya yg bergoyg dan terus menciumnya.

Cukup lama kami menggenjot sehingga keringat mulai keluar. Lalu Pipit berhenti. Kami bertatapan.

“hh.. jar.., aku.. ingin seperti Dona..”, katanya.
“Pipit..”, belum sempat aku selesai berucap, Pipit meluruskan lubang memeknya ke ujung k0ntolku.

Dia menatapku. Napas kami masih tersengal-sengkal karena capek dan gairah.

“Sakit nggak Jar?”, tanya Pipit.
“Sakit Pit.. sebaiknya jangan”, kataku mencoba mencegah Pipit memasukkan k0ntolku ke memeknya.

Tapi Pipit tidak peduli, dia menekan sedikit, sehingga kepala k0ntolku mulai masuk ke lubang memeknya. Lalu diam dan membiarkan kepala k0ntolku mendekam. Kurasa kan sempitnya lubang memek Pipit, kayaknya lubangnya lebih kecil dari Dona, atau otot lubangnya yg kuat..

“Aww hh..”, Pipit merasakan ada benda yg mulai masuk memeknya.
“Pipit..”, aku mengingatkan sambil membelai rambutnya.

Pipit menekan lagi sedikit.

‘aww..hh”, lalu berhenti lagi.

Aku segera mencabut k0ntolku dan menggesek-gesekkan lagi ke memeknya sambil melumat bibirnya dan meremas susunya. Pipit sempat kecewa tapi karena sedang dalam puncak gairah, dia membalas genjotan.

“oohh..ohh..ohh..”. Dan akhirnya Pipit mencapai puncak.
“mmmphh..a.. a.. aahhhhhhhhh…”. Lalu terkulai lemas. Aku membiarkannya.

Pipit beranjak dari tubuhku dan langsung menceburkan diri ke air. Dia suruh aku membawa sabun. Kami saling menyabuni. K0ntolku tegang disabuni, putting susunya Pipit juga mengeras. Mungkin karena terangsang, Pipit memeluk dan menciumku, lalu mendorongku jatuh ke air.

Aku bergeser ke air yg lebih dangkal sehingga dengan sanggahan siku tanganku, kepalaku bisa diatas air, sedangkan seluruh badan dari pundak hingga kakiku berada dibawah air. Pipit kembali menindihku dan menciumku, lalu menggesek-gesekan memeknya di k0ntolku. Kami mendesah-desah.

Tiba-tiba aku merasa kepala k0ntolku bukan menggesek, tetapi masuk ke lubang memek.

“Pipit!”, aku menegur Pipit, tapi Pipit tak peduli dan terus menekan hingga bless,crot.
“aaaawww..”, Pipit berhenti menekan.
”..saakiitt Jarr”, katanya. Aku bangkit dari rebahku dan duduk memeluk Pipit.
“Sakit Jar, sakit..”, Pipit berlinang air mata. Kami sama-sama melihat kebawah.

Di dalam air, k0ntolku masih tertancap ke memek Pipit. Lalu keluarlah darah dari mulut memeknya.

“Jar.. darah..”, katanya.

Aku memeluknya lagi dan berbisik

“itu darah perawanmu Pipit”.

Pipit mendekapku,

“Sakit Jar..”, katanya sedikit menangis.

Aku tak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa memperat pelukan. Kami terdiam.

Kucoba menggoygkan pantatku untuk membangkitkan rasa nikmat. Dan tak lama Pipit juga menggoyg-goygkan pantatnya. Pelan-pelan kami saling bergoyg dan semakin lama semakin cepat. Kami saling mendesah dan mengerang. Hingga akhirnya Pipit kembali mengerang panjang dan lemas.

Aku merebahkannya diair dangkal dan meneruskan menancapkan k0ntol kememek berulang-ulang. Sampai akupun tak tahan dan kumuncratkan mani diluar memeknya, tapi masih di dalam air. Pipit segera duduk untuk melihat. Air maniku keluar dari kepala k0ntolku lalu bergerak-gerak sesuai gelombang air. Pipit memelukku senang.

Setelah istirahat sejenak, kami kembali dan aku setengah membopong Pipit karena dia kesulitan berjalan. Selain karena terjatuh juga karena selangkangannya masih sakit setelah berhubungan seks. Di perjalanan setapak menuju tempat parkir motor, kami bertemu dengan Arman dan Dona. Mereka sudah selesai, dan karena kami belum kembali ke posko, Dona usul agar mereka menyusulku. Melihat Pipit yg jalan terpincang-pincang dengan luka ditangan, Arman segera datang dan membantuku membopong Pipit.

Sesampai di posko, sambil menunggu Yudi, Dona mengajakku belanja oleh-oleh ke pasar terdekat, sedangkan Arman menjaga Pipit. Saat kami berjalan pergi, kulihat Dona dan Pipit saling berpandangan penuh arti.

“Jar, Pipit kamu apain?” sambil belanja Dona menanyaiku.
“Dia terjatuh waktu nyebrang batu di air”, jawabku.
“Kenapa harus di air? Kan acaranya di darat”, Dona terus menyelidik.
“takut ada yg ingin nyebur air, kami cek apakah ada tempat yg dalam atau berbahaya”, jawabku.

Dona mencubit lenganku dengan keras.

“Aww!”, aku kaget.

“Kamu pacarku. Dan aku tidak suka pacar yg bohong!”, katanya dengan gemas dan suara ditahan karena takut terdengar di keramaian pasar.
“Iya iya, nanti aku cerita sejujurnya”, kataku.
“Jujur ya!”, Dona mengepalkan tinjunya.

Kami pulang kembali ke Padang. Di mobil Jimny yg sempit itu aku duduk dibelakang dengan Dona. Pipit juga memilih duduk dibelakang bertiga. Tapi Pipit tidak mau Dona ditengah, dia memilih duduk di tepi sehingga aku berada ditengah-tengah mereka. Dona kesel, tapi dia ingin merahasiakan dulu pacaran kami.

“Wah, asyik nih diapit dua cewek”, Yudi dan Arman menggoda kami.

Apalagi ketika Pipit dan Dona tertidur, atau pura-pura tidur?, kepala mereka rebah ke pundakku.

“Gantian dong Jar”, kata Yudi dan Arman.

Tentu saja aku tidak mau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*