Cerita Sex: Miranti, Pengantin Papa Mertua

Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex – Miranti, Pengantin Papa Mertua Terbaru 2016cerita-sex-miranti-pengantin-papa-mertua

Cerita Sex Terbaru | Miranti Ismail baru saja menjadi Nyonya Roni Suryapradja, resepsi pernikahan mereka baru saja usai kurang dari satu jam yang lalu dan sekarang dia berada di rumah baru yang akan ditempati bersama suaminya. Dia berdiri di depan sebuah cermin besar dalam kamar tidur mereka di lantai atas dan memperhatikan dengan seksama pantulan bayangan tubuhnya dalam cermin. Dia adalah seorang wanita yang menawan dalam balutan busana apa saja, tapi dia jauh tampak lebih mempesona lagi jika dalam keadaan tak berbusana

Kedua telapak tangan Miranti mencengkeram dengan lembut kedua buah dadanya yang seakan tak mengenal gaya gravitasi bumi. Ujung ibu jarinya menggesek ringan pada kedua putting merah muda yang menghiasi puncaknya. Dan dengan cepat kedua putting tersebut menjadi keras merekah akibat gesekan itu. Kedua matanya terpejam rapat untuk beberapa saat lamanya, menikmati sensasi dari sentuhannya itu. Tak menunggu lama kemudian jantungnya berdetak semakin cepat dan nafasnya semakin berat.

Dia membuka mata indahnya yang sayu dan memperhatikan dalam cermin, kedua tangannya yang menjalar turun dari kedua gundukan daging kenyal di dadanya ke perutnya yang rata. Ujung jari tengahnya membuat sebuah gerakan melingkar pada pusarnya, dinikmatinya sebuah kejutan listrik kecil yang membangkitkan gejolak birahi dalam perutnya. Miranti menarik sebuah nafas yang panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.

Cerita Ngentot | Mata indahnya terfokus pada selangkangannya sekarang dan dia merenggangkan kedua kakinya hingga sekarang dapat dilihatnya bibir vaginanya yang kemerahan sudah basah oleh birahinya sendiri. Telapak tangannya yang lembut secara perlahan meraba pinggangnya lalu bergerak ke paha bagian dalam. Tatapannya mengikuti ujung kuku jemarinya yang panjang menggaruk lembut permukan kulit bibir vaginanya yang tercukur bersih. Sebuah lenguhan lirih terlepas dari bibirnya, punggungnya melengkung ke depan saat getaran kenikmatan yang murni menjadikan kedua pahanya gemetar.

Tiba-tiba saja, Miranti menghentikan gerakannya. Dia menatap wajahnya dalam cermin. Rabut hitam lurus yang panjang tergerai indah hingga hampir menyentuh di atas bulatan pantatnya membingkai wajah ovalnya yang ayu, berhiaskan sepasang mata sayu nan indah dan bibir yang sensual dan penuh. Sebuah ekspresi nafsu dan birahi tergambar jelas pada wajah ayunya.

Semestinya saat ini Jason berada disini melakukan semua yang dilakukannya baru saja terhadap tubuhnya sendiri. Seharusnya dirinya sedang berlutut dan mengoral kejantanan suami barunya dengan mulut d dan juga ke dalam vaginanya yang sangat mendambanya. Tangan-tangannya seharusnya berada pada buah dadanya, vaginanya yang serasa terbakar ini seharusnya dimanjakan oleh jemari-jemarinya, bibinya pada bibirnya dengan lidah yang saling membelit dalam mulutnya.Ini sangat tak adil karena dia harus sendririan malam ini, di malam pengantinnya.

Miranti juga sudah menghentikan mengkonsumsi obat pengatur kehamilannya sebulan yang lalu agar dia dan Jason bias segera mendapatkan bayi. Dalam beberapa minggu terakhir mereka saling memberikan orgasme dengan oral seks untuk mencegah agar Miranti tidak hamil dulu sebelum hari pernikahan mereka. Hal itu membuat apa yang selalu ada dalam pikiran Miranti hanyalah malam ini, dimana akhirnya dia bisa mendapatkan batang k0ntol Jason dalam vaginanya kembali seperti biasanya.

Namun masalahnya, Jason adalah seorang workaholic. Belum juga lima belas menit berselang dari upacara pernikahan mereka, dia harus segera bergegas menuju bandara untuk terbang ke luar kota demi sebuah meeting super mendesak dengan klien yang sangat penting. Miranti tahu kalau Jason bekerja dengan sangat keras dan kadang dia merasa kalau suami barunya ini lebih mencintai pekerjaaannya daripada dia. Tapi dia sadar tak ada yang bisa dipersalahkan selain dirinya sendiri, batin Miranti sambil memandangi bayangan tubuh telanjangnya dalam cermin.

Bunyi bel pintu depan yang tiba-tiba, mengejutkan Miranti. Segera saja disambarnya gaun tidurnya dan mengenakannya denga tergesa. Ditapakinya anaka tangga menuju ke lantai bawah dan dengan bergegas melangkah menuju ke pintu depan. Dan ketika dia membukakan pintu, didapatinya papa mertuanya di sana.

“Hey, pa,” sapa Miranti terkejut.
“Mari masuk.”

Dia bergerak mundur untuk memberi jalan pada Baron Suryapradja untuk masuk, kemudian menutup pintu itu dan mengajak papa mertuanya menuju ke ruang keluarga. Tanpa menawari, Miranti menuangkan dua gelas scotch untuk mereka berdua sambil membicarakan tentang resepsi pernikahan tadi, dan kemudian dia duduk pada sofa di samping papa mertuanya.

Sejenak dia merasa agak rish saat menyadari kalau dia tak mengenakan apa-apa lagi dibalik gaun tidurnya ini dan berfikir untuk berganti pakaian, tapi akhirnya membatalkannya. Untuk sebuah alasan, mengetahui tak ada pakaian dalam yang dikenakannya dibalik gaun tidur saat duduk disamping papa mertuanya yang tampan, membuat Miranti merasa erotis.

“Aku merasa prihatin dengan kejadian yang tak seharusnya kamu alami ini,” ucap Baron membuka percakapan.
“What can I say?” Miranti mengangkat bahu. “Bang Jason harus kerja.”
“Yes, but not on your wedding night. Tak ada pekerjaan atau klien yang layak untuk itu.”
“I agree,” jawabnya lirih.
“Harus aku akui kalau aku merasa agak sedikit kecewa pada anakku,” kata Baron.
“Oh, well, apa yang sudah terjadi biar saja terjadi, pa,” jawab Miranti, memaksakan agar nada suaranya terdengar riang.

Dalam tiga puluh menit berikutnya mereka berbincang tentang rumah peristirahatan Baron yang baru yang terletak di pingir danau dan baru dibelinya setahun belakangan semenjak bercerai dengan isterinya. Baron adalah seorang pekerja keras yang mempunyai beberapa perusahaan laundry yang sangat sukses. Setelah membuat perusahaan-perusahaannya tersebut menjadi sangat profitable dan stabil, dia memutuskan untuk pensiun dan menjalankannya dari belakang. Pada usianya yang ke lima puluh dua tahun, hari tua Baron menjadi sangat terjamin.

Mereka berdua sudah menghabiskan gelas ketiganya dan Miranti mulai merasa agak melayang. Mungkin karana pengaruh dari alcohol yang dikonsumsinya tapi dia tak mampu mencegah dirinya untuk tidak memandangi wajah papa mertuanya yang tampan dengan seksama. Untuk pria seusianya, Miranti merasa betapa Baron memiliki daya tarik yang sangat besar, dan dia sudah merasakan hal tersebut sangat lama.

Postur tubuhnya sangat gagah dan tinggi tegap dengan rambutnya yang berombak lebat. Matanya yang setajam elang selalu membuatnya seakan tenggelam ke dalamnya saat dia memandangnya. Sedikit uban yang menghiasi kepalanya menjadikannya semakin tampak matang sekaligus seksi dan Miranti selalu merasa ingin membelainya dengan jemar lentiknya.

Sang wanita muda menarik nafas dalam-dalam lalu menhembuskannya dengan perlahan.. What’s the matter with me? Ini papa mertuaku,Papanya Jason, dan aku membayangkan bagaimana rasanya bersetubuh denganya. Disingkirkannya pikiran itu dari benaknya, tapi sedetik kemudian, pikiran tersebut menyergapnya lagi, menggodanya dengan bayangan-bayangan yang tak seharusnya dia lamunkan.

Berlawanan dengan kata hatinya, Miranti merasakan putting susunya mulai mengeras di balik gaun tidurnya, dirasakannya selangkangannya menjadi basah oleh birahinya dan nafasnya menjadi tersengal. Bagaimana jika dicicipinya air tersebut sedikit saja? Bagaimana jika dia mengarahkan pembicaraan ini ke topic seputar seks? Apakah dia akan merasa ‘jijik’ terhadapnya?

“Sudah susah payah aku mempersiapkan diri untuk malam ini,” kata Miranti, mulai menyelam ke dalam air itu.
“Aku tahu, hal itu terlihat jelas, Miranti. Kamu terlihat sangat cantik di resepsi tadi.”
“Aku bercukur satu jam sebelum resepsi agar kakiku jadi halus untuk Jason malam ini,” katanya, menyelam semakin ke dalam lagi.
“Yah, dia jadi… ah, sangat rugi jadinya.”
“Dia sangat senang kalau kakiku dicukur halus,” katanya lagi.

Bias merasakan suaranya sedikit bergetar saat dia memandang papa mertuanya. Dia memutuskan untuk semakin maju, semakin berani. “Dia suka menggesekkan batang k0ntolnya pada pahaku.”

Miranti melihat Baron menarik nafas dengan sedikit sulit karena statement terakhirnya tadi. Alisnya terangkat naik saat Baron meliriknya sekilas, lalu pandangannya menurun ke arah pahanya. Ujung bawah gaun tidurnya hanya beberapa centimeter di atas lututnya dan wanita muda ini berfikir apakah dia telah melangkah terlalu jauh. Tapi Baron hanya mengangguk dan kemudian tersenyum padanya. Hati Miranti semakin mantap karenanya dan dia sedikit menggeser posisi duduknya hingga membuat ujung gaun tidurnya semakin tersingkap naik di pahanya.

“Apa papa suka dengan paha yang lembut?” tanyanya pelan menggoda.
“Aku rasa kita tak semestinya bicarakan ini,” kata Baron dengan nervous.
“Tak ada orang yang akan tahu,” potong Miranti.
“Ya, tapi…well, it’s wrong.”

Untuk beberapa saat, Miranti tak mampu berkata apa-apa. Dia sudah berkelakuan layaknya seorang wanita jalang murahan di hadapan papa mertuanya, sudah mengucapkan kata-kata rayuan untuk menggodanya.Dia sangat menginginkan batang k0ntol seorang lelaki hingga membuatnya berbuat terlalu jauh hanya untuk mendapatkan kejantanan Baron Suryapradja ke dalam kewanitaannya yang kehausan sentuhan kelelakian dari seorang pria. Dia jadi merasa malu akan dirinya dan benaknya memutar dengan keras untuk mendapatkan sebuah alas an akan tingkah lakunya tadi. Dia hanya berharap agar Baron mengabaikan godaannya tadi dan memaafkannya.

Lalu, tiba-tiba saja saat pandangannya tersapu ke arah selangkangan papa mertuanya, hampir saja Miranti menjerit terkejut begitu melihat tonjolan yang terlihat menggelembung keras. Dengan cepat dia memalingkan pandangannya dan tersenyum sendiri. Dia sadar kalau tindakannya tadi adalah salah. Tidak seharusnya dia menggoda papa mertuanya, tapi dia tak mampu mencegahnya. Dia harus mendapatkan pria ini. Sang wanita muda ini merubah posisi duduknya hingga sekarang sebelah tubuhnya bersandar pada sandaran sofa itu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia mengangkat kakinya dan menumpangkannya di pangkuan Baron.

“Bisakah papa merasakan kelembutan kakiku?” tanyanya manja.

“Aku…Miranti…” Baron tak mampu untuk melawan kenyataan bahwa dia sudah tergoda untuk mencicipi anggur dari cawan rayuan yang disuguhkan manantunya ini, disentuhnya kaki Miranti dengan kedua tangannya yang gemetar.

“Papa suka kakiku?”

“Yes…tentu saja…” Suarana terdengar rendah dan bergetar.

“Elus pahaku,” perintahnya lembut, matanya tertuju pada tangan Baron. Miranti menarik ujung gaun tidurnya ke atas hingga tepat di bawah vaginanya yang basah. “Resakan kelembutannya.”

Baron menelan ludahnya dengan susah payah dan menatap mata menantu permempuannya.

“Seharusnya aku tak boleh melakukan ini, Miranti. Kamu isteri anakku.”
“Tak ada seorangpun yang akan tahu,” Miranti memberikan sebuah alas an dengan suaranya yang lembut menghanyutkan.
“Oh, Miranti.”

Dia mempehatikan saat tangan papa mertuanya mulai menelusuri sepanjang paha bagian dalamnya dengan perlahan, lalu turun ke bawah lutut. Sebelah tangan Baron terus meraba menelusuri kehalusan paha dan kaki jenjangnya sedangkan yang sebelahnya lagi melakukan pijatan lembut pada kaki yang seksi tersebut. Tangan Baron terasa nikmat dan bagian tabu dari apa yang tengah mereka lakukan ini hanya semakin menaikkan kenikmatan yang melanda Miranti dengan hebat. Menyadari kalau dia sudah menggoda papa mertuanya, sesuatu yang terlarang dan tak pernah dia lakukan sebelumnya, menyalakan api yang berkobar semakin besar dalam vaginanya.

“Papa…” Dia menunggu sesaat hingga perhatian Baron sepenuhnya terhadapnya dan kedua pasang mata mereka terkunci bersama.

Lalu Miranti melanjutkan:

“Tak ada seorangpun yang boleh tahu. Ini akan menjadi rahasia kita berdua.”

Dengan perlahan, dan mata masih terpaku pada mata Baron, Miranti menyingkapkan gaun tidurnya. Miranti melihat mata papa mertuanya terbelalak lebar dan seakan ingin menelan sekujur tubuhnya yang hanya semakin membuat nafas Miranti seakan tercekat. Pada diri Miranti sendiri, dia merasa sangat nakal dan banal saat berbaring dalam keadaan terlanjang di hadapan papa mertuanya yang baru ini dan sedang menatap sekujur tubuhnya dengan pandangan layaknya seekor serigala lapar yang siap menerkamnya hidup-hidup saat itu juga.

Ini adalah sebuah perasaan yang tiba-tiba Miranti sadari bahwa dia sangat menikmatinya dengan suka cita. Dia menaikkan kaki kirinya dan menempatkannya di atas sandaran sofa dan kaki yang sebelahnya lagi diturunkannya berpijak di atas lantai, hingga membuat selangkangannya terpentang lebar, menjadikan vaginanya terpampang jelas di hadapan papa mertuanya.

Dengan suaranya yang lirih dan bergetar dia berkata, “Aku juga mencukur bersih vaginaku malam ini, pa. Papa suka?”

“I love your pussy, Miranti!” suara Baron terdengar berat.
“Eat me, papa! Eat my pussy!” kata pussy yang keluar dari bibir papa mertuanya semakin membuat gairahnya bergolak.

Miranti sudah sepenuhnya kehilangan kendali diri dan akal sehatnya, tersesat dalam gairahnya terhadap papa kandung suaminya sendiri. Dia melihat dari matanya yang diselimuti nafsu saat Baron mulai merangkak diantara pahanya yang terbentang lebar dan mulai menjilat pahanya. Lidahnya itu terasa sungguh nikmat bagitu menyapu kulit lembutnya, mengirimkan sebuah sengatan listrik kecil jauh ke dalam perutnya. Jemarinya menyisiri rambut Baron yang berombak tebal,mengalirkan birahi murni yang terpendar dari sekujur tubuhnya. Terasa gila melakukan apa yang tengah diperbuatnya kini tapi Miranti tak mungkin mampu menhentikannya meskipun dia ingin.

Lidah Baron meluncur dengan mudah di sepanjang belahan bibir vaginanya yang telah basah dan licin hiingga pada kelentitnya yang sensitive. Punggungnya melengkung terangkat naik dan ditekannya kepala Baron hingga wajahnya semakin terbenam dalam selangkangannya. Lidah Baron mulai menelusup ke dalam lubang surganya, menggoda kelentitnya dan menyapu seluruh permukaan bibir vaginanya yang gemuk dengan sepenuh gairah. Sebuah lenguhan kecil mulai keluar dari mulut Miranti dan dia mulai meracau ketika lidah Baron dengan intensif menaikkan kenikmatannya semakin tinggi.

Miranti mulai menggoyangkan pinggulnya pelan, menggosok mulut papa mertuanya dengan vagina basahnya. Kepalanya terlempar ke kanan-kiri dihantam gelombang birahi, dan bibir bawahnya digigitnya erat untuk sedikit meredakan amukan itu. Ini sungguh terasa nikmat! Papa mertuanya yang tampan dan seksi sedang melahap vaginanya! Dia tak akan merasa cukup menikmati lidahnya yang panas!

“Oh, yes! Oh, yes! Oh, yes!” jeritnya.
“Sangat nikmat, pa! Do you like eating my pussy?”
“Oh, yeah, baby!” jawab Barondalam suara parau.
“I love your pussy! Aku bias melahapnya semalam suntuk!”
“Yeeeesssss! Lakukan semalam suntuk! Jangan berani mencoba berhenti! Eat my pussy!”

Hubungan mereka sebelumnya terjalin hangat dan akrab, sepatutnya terjaga kesopanan antara papa dan calon isteri puteranya, tapi kali ini sungguh sangat berbeda. Mendapati pria paruh baya ini diantara pahanya dan sedang melahap vagina yang semestinya milik puteranya dengan begitu buas bukanlah sebuah hubungan antara papa mertua dan menantunya yang normal. Hal ini sangatlah tabu tapi Miranti sangat menyukainya. Dan berkata kotor dan mesum pada papa mertuanya hanya semakin lebih menggairahkannya.

“Sshhh!” desisnya.
“You’re such a good pussy licker!”
“Kamu suka, baby? You like having me eat your pussy?”
“Yesssss! Papa suka menjilati vagina isteri puteramu ini?”
“Oh, fuck, yes!”
“Yessssssssss! Papaaa! Aku mau keluar! Make my pussy cum!”

Baron menyerang vaginanya tanpa ampun. Lidah dan bibirnya melahap setiap mili dari kewanitaan menantunya yang semakin basah kuyup tersebut, merangsak ke dalam lubang senggamanya, dan menyapu liar kelentitnya dengan seluruh nafsunya untuk menghantarkan Miranti semakin mendekati orgasmenya. Pinggulnya bergoyang dengan liar diiringi erangan mesum dari mulut Miranti. Tangannya menarik dan memilin putingnya sendiri dengan kasar hingga membuatnya menjeritkan surara racauan kenikmatan. Dia sudah hampir sampai, sudah sangat dekat. Dan tiba-tiba saja punggungnya melengkung terangkat naik dari atas sofa.

“I’M CUUUUUMMMMMIIIIINNNNNGGGGG!” jeritannya terdengar keras membahana. “EAT MY PUSSY, PAPA! EAT MEEEEEEEEEE!”

Jeritannya terlepas dari mulutnya, menebarkan kegaduhan mesum dalam ruang keluarga ini mengiringi tubuh Miranti yang menggeliat dan menghentak dan menaik-turunkan pinggulnya dengan liar. Vaginanya menggosok mulut lapar Baron dengan keras. Gerakan cepat naik turun dan mengejat dari pinggul Miranti membawanya menaiki gelombang orgasmenya yang intens dan dahsyat. Baron memegangi pinggul Miranti, menahannya hingga akhirnya kembali rebah di atas sofa dengan nafas tersengal dan tubuh gemetar hebat. Mata indahnya terbelalak lebar memandangi papa mertuanya.

“I can’t believe it!” katanya dengan tersengal. “Belum pernah aku orgasme seperti ini sebelumnya!”
“You are one incredible young lady,” kata Baron menyeringai.
“I want you to kiss me,” pintanya manja.
“Dengan senang hati,” Baron tersenyum.

Baron menarik tubuh menantunya dengan lembut ke dalam pelukannya kemudian menempelkan bibirnya sendir ke bibi Miranti dengan erat. Segera saja mulut Miranti membuka untuknya dan terdengar suara erangan kenikmatan dari mulutnya yang tersumpal mulut papa mertuanya saat lidah Baron menelusup di antara bibirnya yang terbuka. Keduanya saling berciuman cukup lama dan dalam., lidah mereka saling mengeksplorasi mulut masing-masing dengan gairah menggebu. Kedua pecinta ini saling menyentuh dan meraba dan Baron menikmati rasa dari kelembutan tubuh seorang wanita muda dalam dekapannya tersebut.

Tangan Miranti mulai bergerak melucuti pakaian papa mertuanya, bergerak dengan cekatan melepaskan kancing demi kancing bajunya. Baron menendang lepas sepatunya, melapaskan kaus kakinya dan membantu menantunya untuk melepaskan celan panjang dan pakaian dalmnya. Saat akhirnya dia sudah tak berpakaian, Miranti rebah kembali ke atas sofa dan menatap dengan penuh gairah pada tubuh telanjang papa mertuanya. Tinggi tegap dan gagah dengan kulit kecoklatan, dada bidangnya tertutupi oleh rambut yang lebat. Matanya turun tertuju pada batang k0ntolnya dan dia mengerang lirih. Sebuah batang kejantanan yang besar dan gemuk, sama seperti milik puteranya.

“Fuck me!” desisnya mengundang.
“Masukkan k0ntol besarmu ke dalam vaginaku!”
“Kamu yakin?” Tanya Baron memastikan.
“Kamu tad bilang sudah menghentikan mengkonsumsi obat pengatur kehamilan dan…”
“Ya,” jawab Miranti memotong.
“I need you in me! Aku ingin merasakan k0ntolmu menyemburkan spermamu di dalam rahimku dan mengisiku dengan benihmu!”
“Oh, baby…”

Baron bergerak ke antara paha Miranti yang terbentang lebar dan memposisikan kepala k0ntolnya yang gemuk di depan pintu masuk lubang senggama menantunya. Dengan perlahan, menggoda, dia menggerakkan kepala k0ntolnya naik turun di sepanjang belahan bibir vagina Miranti untuk membasahinya dan dengan matanya yang terpaku tepat di mata Miranti, didorongnya batang k0ntolnya masuk dengan sakali hentakan yang lembut namun mantap.

Nafas Miranti tersengal dan mengerang kenikmatan. Baron segera menyambar bibir Miranti, melumatnya dalam sebuah ciuman yang panjang, dalam dan basah. Kaki jenjang Miranti melingkari pinggang Baron saat dia mulai mengayunkan pinggangnya, melesakkan batang k0ntolnya keluar masuk dalam vagina Miranti. Lengan Miranti melingkari leher Baron dan tangannya memberikan sebuah usapan pada punggung mertuanya saat dia menerima dengan seluruh jiwa raganya saat kejantanan Baron memasuki tubuhnya.

“Aku akan mengeluarkan spermaku dalam rahimmu, Miranti!” erangnya dengan suara yang parau.
“Yes! Fill me with your hot cum!”
“Aku akan menghamilimu! Aku akan membuat seorang bayi kecil dalam perutmu!”
“Ohhhhhhhhhh!”

Baron tak bisa mempercayai pendengarannya, dia sudah mengatakan pada pengantin puteranya yang baru ini kalau dia akan membuatnya hamil. Tingkah laku berselimtkan nafsu terlarang yang dilakukannya dengan menantunya yang ayu ini dan statement Miranti yang menginginkan benihnya menaburi rahimnya sungguh sangat menggairahkan. Dia menggeram begitu merasakan kenikmatan laksana beludru yang sangat lembut dari dinding vagina Miranti mencengkeram erat batang k0ntolnya yang keras. Rasanya sangat tepat dan nikmat. Perasaan bersalah yang singgah dalam hatinya di awal sudah lenyap tak berbekas. Yang ingin dilkukannya saat ini hanyalah menyenggamai seorang makhluk ciptaan sang pencipta nan cantik ini dengan segenap birahinya.

“Papa mau melihat perutku jadi besar berisi bayinya papa?”
“Oh, ya!”
“I like talking dirty to you,” suara manjanya semakin membakar. “I like having you fuck my pussy even more!”
“I like fucking my slutty daughter-in-law!”
“Yesssss! I want to be your slut!”
“Kamu betinaku, Miranti!” serunya sambil emngigit bibir bawah Miranti. “Mulai sekarang kamu akan menjadi pelacur kecilku!”
“Oh, papaaa!” erangnya. “Fuck me hard with your big papa-cock!”

Baron mulai merangsak vagina menantunya dengan cepat dan keras. Buah zakarnya menghantam pantat Miranti setiap kali dikirimkannya batang k0ntolnya yang keras masuk jauh ke dalam vaginanya. Tubuh Miranti menggelinjang oleh gairah, kuku-kuku panjang jemari lentiknya menancap erat ke dalam punggung Baron untuk membuat pinggulnya semakin terangkat naik hingga vaginanya semakin menempel erat pada batang k0ntol mertuanya yang mengocoknya dengan cepat dan keras. Tubuh mereka saling menggeliat dan menghentak dalam irama persenggamaan terlarang bersama, suara erangan, lenguhan dan nafas yang tersengal beserta suara kulit basah yang saling menampar keras seakan menjadi musik pengiring bagi keduanya untuk segera menggapai puncak kenikmatan bersama.

Tak lama berselang kemudian Baron merasakan sebuah letupan perasaan yang familiar yang memberinya tanda kalau dia akan segera orgasme. Dia memperlambat kocokannya, menahan gerakannya untuk beberapa saat dan meresapi kenikmatan dari rasa manis vagina menantunya lebih lama lagi. Tapi dia tak mampu mengontrol tubuhnya lebih lama lagi. Segera dia meneruskan hentakan dan kocokan batang k0ntolnya ke dalam vagina Miranti dengan sebuah dorongan yangpanjang, keras dan cepat yang membuat bibir penuh nan seksi milik Miranti tak berhenti mengeluarkan erangan dan lenguhan kenikmatan.

“Aku akan segera keluar, I’m gonna cum, baby!”
“Yes! Cum in me! Aku ingin merasakan sperma papa menyembur dalam rahimku, buat aku hamil, papa!”

Baron memeberikan 2 kali dorongan lagi ke dalam lorong birahi Miranti yang basah, lalu batang k0ntolnya mengejat keras begitu menyemburkan sebuah ledakan. Dia menggeram, keras dan dalam, saat dia memuntahkan sperma ke dalam vagina waniata yang baru saja menjadi menantu barunya beberapa jam yang lalu. Baron menarik k0ntolnya keluar, kemudian melesakkannya masuk kembali dan menahannya beberapa saat, lalu mencabutnya lagi dan melesakkannya masuk kembali. Miranti menjerit dan merapatkan vaginanya pada Baron begitu orgasmenya sendiri mulai menggulungnya.

Sekujur tubuh Baron tergetar oleh birahi dan nafsu akibat orgasme yang melandanya dan dia memberikan beberapa kali hentakan demi hentakan yang keras dan dalam lagi sebelum akhirnya tubuhnya rubuh di atas tubuh pengantin baru ini.

Keduanya berbaring dengan nafas masih memburu cepat, lengan dan kaki mereka saling terkait, mata mereka terbuka dan bibir mereka saling melumat. Baron berguling ke samping dengan punggung menempel pada sandaran sofa dan merengkuh Miranti ke dalam pelukannya.

Sebuah perasaan emosional berdengung dalam kepala Miranti dan sekejap dia menyadari kalau kini memiliki dua orang lelaki dalam hidupnya. Benar atau salah, Miranti tahu kalau dia menginginkan keduanya, anak dan orang tua ini dalam hidupnya, untuk mencintai dan menyayangi sepenuh hati seperti apa yang dia rasakan terhadap mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*